Selasa, 01 Juni 2010

APA KATA ALKITAB TENTANG KEDEWASAAN ?

A. Realitas Kedewasaan
Ketika kita membicarakan mengenai kedewasaan, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:
1. Kedewasaan: Proses
Hal pertama yang perlu kita perhatikan tentang kedewasaan bahwa kedewasaan adalah suatu proses. Tidak ada orang yang dari kecil tiba-tiba langsung berubah menjadi dewasa baik dari segi usia, iman, maupun karakter. Semua membutuhkan proses. Jika kedewasaan adalah sebuah proses, bukankah lebih bijaksana jika kita tidak pernah menganggap diri lebih dewasa dari orang lain? Mengapa? Karena standar kedewasaan kita belum tentu benar-benar sesuai dengan standar kedewasaan yang Allah tetapkan. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan diharapkan menguji dan mengintrospeksi diri masing-masing akan tingkat kedewasaan kita baik dari segi iman, karakter, dll.

2. Signifikansi Pihak Luar di dalam Proses
Karena kedewasaan Kristiani adalah sebuah proses, maka kita sangat membutuhkan pihak luar untuk membentuk proses kedewasaan itu. Pihak luar yang terpenting di dalam pembentukan proses kedewasaan ini adalah Allah Roh Kudus yang memimpin kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam pengudusan terus-menerus (progressive sanctification). Roh Kudus inilah yang memimpin langkah hidup kita untuk terus-menerus dewasa di dalam iman, karakter, dll untuk memuliakan Tuhan. Selain Roh Kudus, kita juga memerlukan Alkitab sebagai sumber kedua yang memimpin kita untuk lebih dewasa mengerti kehendak-Nya. Sebagai sarana ketiga, kita membutuhkan saran dan nasihat dari saudara seiman, hamba Tuhan yang bertanggungjawab, orangtua, dan teman sebagai masukan bagi kita agar kita menjadi lebih dewasa lagi.


B. Macam-macam Kedewasaan Kristiani yang Sehat
Setelah kita mengerti 2 realitas mengenai kedewasaan, maka kita sekarang mulai masuk dan mengerti macam kedewasaan Kristiani yang sehat dan bertanggungjawab. Saya membagi ada 2 macam kedewasaan Kristiani yang sehat, yaitu:
1. Kedewasaan Internal (Internal/Essential Maturity)
Kedewasaan internal yang saya maksud di sini adalah kedewasaan yang dilihat bukan seperti yang dunia lihat yaitu secara fenomenal, tetapi kedewasaan ini lebih ke dalam hidup dan iman anak-anak Tuhan. Itulah esensi kedewasaan yang tidak bisa ditipu. Kalau kita mengukur kedewasaan hanya dari segi fenomenal, itu bisa menipu dan itu bukan hal terpenting, karena Tuhan tidak mementingkan hal-hal tersebut. Tuhan lebih memperhatikan aspek dalam yang dibereskan terlebih dahulu yang nantinya diwujudkan keluar di dalam aspek eksternal. Ingatlah, Tuhan menilai hati kita, bukan kelakuan kita (1Sam. 16:7b). Karena Tuhan lebih menilai hati kita sebagai hal esensial, mari kita melihat tingkat kedewasaan yang terpenting dan mendasar adalah kedewasaan internal. Kita akan kembali menggali Ibrani 5:14 ini sebagai dasar kita mengerti kedewasaan internal. Dari Ibrani 5:14 yang kita renungkan di atas, kita mendapatkan 2 kriteria kedewasaan internal yang dipaparkan oleh penulis Surat Ibrani, yaitu:

a) Mengonsumsi makanan keras
Di dalam Ibrani 5:13, penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa anak kecil yang tidak memahami (bahasa aslinya bisa diterjemahkan: bodoh atau mengabaikan) ajaran tentang kebenaran itu suka minum susu, sedangkan di ayat 14 dijelaskan bahwa orang yang sudah dewasa tidak lagi mengonsumsi susu, tetapi mengonsumsi makanan keras. “Makanan keras” di dalam KJV diterjemahkan strong meat (=daging yang keras/kuat). Kata “keras” di dalam bahasa Yunaninya stereos bisa diterjemahkan solid (=kokoh/padat/penuh/kuat/murni). Artinya, orang dewasa lebih suka mengonsumsi makanan atau sesuatu yang keras. Apa tujuannya? Tujuannya agar otot-otot mulut dan giginya bisa terlatih ketika makan makanan yang keras. Jika orang yang sudah dewasa masih gemar mengonsumsi makanan yang lembek/lembut, seperti: bubur, dll (kecuali waktu sakit), ada yang tidak beres pada orang dewasa tersebut. Kalau secara duniawi/fisik, kita mengerti logika ini, tetapi herannya, mengapa dalam aspek rohani, kita hampir tidak bisa mengerti logika ini? Oleh karena itu, melalui ilustrasi secara jasmani ini, penulis Surat Ibrani ini mengingatkan kepada kita bahwa orang yang dewasa harus mengonsumsi makanan keras, yaitu kebenaran firman Tuhan yang sangat tidak cocok dengan keinginan kita yang berdosa. Meskipun tidak cocok dengan keinginan (baca: nafsu) kita yang berdosa, makanan keras yaitu kebenaran firman Tuhan itu memiliki 2 signifikansi:
(1) Untuk mendewasakan iman Kristen
Kebenaran firman Tuhan itu memiliki signifikansi pertama, yaitu untuk mendewasakan iman Kristen. Iman Kristen yang dewasa didapatkan ketika seorang Kristen yang taat dan cinta Tuhan memberikan waktunya untuk membaca, menggumuli, dan merenungkan, serta mengaplikasikan firman Tuhan. Ketika kita mengalami masalah terberat, kembalilah kepada firman Tuhan, maka Roh Kudus akan memakai firman Tuhan itu untuk menguatkan kita yang sedang mengalami masalah. Firman Tuhan itulah mengubah seluruh perspektif hidup kita dari hidup yang berpusat kepada diri (antroposentris) kepada hidup yang berpusat kepada Allah (Theosentris). Sehingga meskipun kita mengalami penderitaan berat sekalipun, firman-Nya menguatkan dan mengajak kita melihat ke atas (yaitu, Allah) dan berharap kepada-Nya (bukan seperti anak kecil yang memaksa Tuhan mengabulkan permintaan kita). Pada hari Minggu, 16 November 2008, Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div., pendeta di gereja saya, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya yang mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening memberikan sedikit kesaksian tentang penyakit yang beliau derita dan pemeliharaan Allah atas dirinya. Beliau menceritakan bahwa ketika beliau mendengar kata “kanker” yang diberitahukan oleh dokter, beliau langsung shock dan merasa down, karena bagi beliau, kanker itu sesuatu yang menakutkan dan bisa berakibat fatal, yaitu kematian. Di saat seperti itulah, beliau berdoa dan meminta jawaban Tuhan mengapa beliau bisa menderita kanker. Di saat itulah, Tuhan tidak langsung menjawab, Ia menjawab secara tidak langsung melalui istri beliau yang mengingatkan ayat Alkitab di dalam 1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Sarana inilah yang mengakibatkan Pdt. Thomy memiliki perspektif yang berbeda tentang penyakit yang dideritanya. Kebenaran firman Tuhan menguatkan beliau ketika mengalami penderitaan. Kebenaran inilah yang mengakibatkan beliau tetap bersukacita walaupun mengalami penyakit stadium 3 lebih ini. Hal ini nampak dari sinar wajahnya yang tetap berseri. Hal serupa juga dialami oleh pendeta GRII di Jakarta yang sudah meninggal, (alm.) Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Th. Beliau juga mengidap penyakit kanker tenggorokan (kalau tidak salah) dan sampai akhir hidupnya, beliau tetap melayani Tuhan. Walaupun Tuhan tidak menyembuhkan penyakit kanker yang beliau (Pdt. Amin) derita, beliau tetap melayani Tuhan (bahkan masih meneruskan studi M.Th. bidang Pendidikan Kristen di UKI, Jakarta dan sudah lulus) dan tidak pernah mengomel. Inilah kedewasaan iman Kristen yang didapatkan ketika membaca, menggumuli, dan merenungkan firman Tuhan. Ingatlah, kedewasaan iman Kristen di poin ini TIDAK diukur dari seberapa banyak kita membaca buku-buku theologi yang berbobot dan tafsiran Alkitab (meskipun ini penting), tetapi diukur dari pergumulan umat-Nya setiap hari bersama Tuhan dan pemeliharaan-Nya.

(2) Untuk membentuk karakter Kristen
Bukan hanya untuk mendewasakan iman Kristen, firman Tuhan juga membentuk karakter Kristen. Firman Tuhan ini membentuk karakter kita yang dahulu adalah budak iblis menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki karakter ilahi. Karakter ilahi tersebut sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."” Terang Kristus itu bisa bercahaya jika kita hidup sebagai manusia baru dan anak-anak terang yang Paulus jelaskan di dalam Efesus 4:17-6:20. Hal serupa juga dijelaskan Paulus di dalam Galatia 5:22-23 melalui pengajaran tentang 9 rasa dalam buah Roh dan diakhiri dengan kesimpulan yang tegas di ayat 24-25, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Bagaimana dengan kita? Maukah kita berkomitmen memperbaiki karakter kita sesuai dengan karakter ilahi yang Alkitab ajarkan dan Allah inginkan? Biarlah Roh Kudus memimpin kita di dalam membentuk karakter ilahi tersebut, sehingga kita bisa menjadi pemancar terang Kristus.


b) Peka membedakan yang baik daripada yang jahat
Selain mengonsumsi makanan keras yaitu firman Tuhan, kedewasaan internal ditandai dengan peka membedakan yang baik daripada yang jahat. Kata “membedakan” dalam Ibrani 5:14 ini di dalam terjemahan Inggris ada yang diterjemahkan discern (=mengetahui dengan jelas/mengenal) dan ada yang diterjemahkan distinguish (=membedakan/menggolongkan). Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah diakrisis bisa berarti discern atau disputation (=perdebatan, pertentangan, perselisihan). Dengan kata lain, kedewasaan internal diukur dari kepekaan seseorang (Kristen) mengetahui dengan jelas sesuatu atau seseorang apakah itu baik atau jahat, lalu pengetahuan itu menuntut pembedaan yang jelas antara keduanya, sehingga tidak mengaburkan dan menyesatkan. Kepekaan mengetahui dengan jelas dan kemudian membedakannya hanya dimiliki oleh seorang yang sudah dewasa. Sedangkan anak kecil atau orang yang mengklaim diri dewasa tetapi masih kekanak-kanakan (childish) tetap tidak akan memiliki kepekaan ini, mengapa? Karena mereka belum terlatih. Lalu, bagaimana memiliki kepekaan ini? Roh Kudus memimpin orang Kristen dewasa memiliki kepekaan ini melalui sarana Alkitab. Ketika seorang Kristen dewasa menggumuli dan mempelajari Alkitab dengan teliti dan ketat, maka ia memiliki tingkat kepekaan rohani yang tajam membedakan yang baik daripada yang jahat. Lebih tajam lagi, menurut Paulus di dalam Roma 12:2, orang Kristen dewasa ini tidak lagi dipengaruhi oleh dunia, tetapi mereka memiliki perubahan pola pikir yang mengikuti kehendak Allah.

Setelah kita tahu bahwa Roh Kudus memimpin kita memiliki kepekaan ini melalui Alkitab, maka bagi siapa/apakah kepekaan membedakan ini berlaku?

(1) Berlaku bagi diri kita sendiri (internal)
Sering kali secara sadar atau tidak sadar, ketika berkhotbah, beberapa hamba Tuhan mengajar bahwa kita harus waspada dan berjaga-jaga, yang sering ditekankan adalah aspek/pihak luar. Maksud saya, mereka berkhotbah bahwa kita harus berwaspada terhadap pihak luar (ajaran dari luar) yang menyesatkan dan menipu kita. Hal tersebut tidak salah, jika memang itu sesuai dengan kebenaran Alkitab. Tetapi itu sebenarnya adalah poin kedua yang kita perlu perhatikan. Poin yang lebih penting adalah kepekaan membedakan yang baik daripada yang jahat pertama-tama berlaku bagi diri kita sendiri. Orang Kristen dewasa TIDAK melihat orang atau ajaran lain untuk ditegur atau dinyatakan salah, melainkan mereka melihat ke dalam dirinya sendiri untuk dikoreksi (bdk. Mat. 7:1-5). Tuhan menuntut kita peka melihat ke dalam diri kita, sudahkah kita mampu membedakan yang baik daripada yang jahat dari segi: motivasi, cara, dan tujuan? Sebelum kita melakukan segala sesuatu, sudahkah kita menguji motivasi hati kita terlebih dahulu, lalu disusul dengan cara yang kita pergunakan dan tujuan yang akan kita tuju/inginkan, kemudian kita serahkan semuanya untuk kemuliaan Tuhan? Bukankah yang sering terjadi adalah sebelum kita melakukan segala sesuatu, yang kita pertimbangkan adalah aspek untung ruginya, ketimbang apakah motivasi kita murni atau tidak sesuai dengan kehendak dan kemuliaan-Nya? Jika kita masih demikian, meskipun kita mengklaim diri orang dewasa, sejujurnya kita masih seperti anak kecil yang menginginkan segala sesuatu untuk kesenangan diri. Itu sama sekali TIDAK menunjukkan kedewasaan. Uji motivasi hati kita, lalu segeralah bertobat jika kita menjumpai adanya ketidakmurnian motivasi kita.
Bukan hanya motivasi, cara yang kita gunakan pun perlu kita pertimbangkan apakah sesuai dengan kehendak Allah. Motivasi yang murni perlu disertai dengan cara yang kita pergunakan. Adalah suatu kesia-siaan jika kita memiliki motivasi yang murni, kita menggunakan cara-cara yang tidak etis dan bahkan kasar. Ini juga menjadi refleksi dan koreksi bagi saya pribadi yang sering kali tidak peka akan hal ini. Misalnya, di dalam diskusi/debat theologi, saya menjumpai realitas bahwa ada hamba Tuhan yang mengadakan debat theologi dengan pihak lawan mungkin memiliki motivasi murni untuk mempertobatkan mereka (pihak lawan), tetapi sayangnya cara-cara yang mereka gunakan itu terlalu keras dan kasar. Bahkan di dalam makalah yang ditulis hamba Tuhan ini terkandung kata-kata dan kalimat-kalimat yang kasar yang tidak etis dituliskan oleh seorang hamba Tuhan yang berpendidikan theologi dari USA.
Bukan hanya motivasi dan cara, kita juga perlu mempertimbangkan tujuan yang akan kita raih/dapatkan. Apakah tujuan itu sungguh membawa kemuliaan bagi Tuhan atau sebenarnya untuk kepuasan diri kita? Kalau kita mempelajari dari realitas yang saya paparkan di atas tentang ada hamba Tuhan yang gemar mengadakan debat theologi. Mungkin saja dari segi motivasi, dia memiliki motivasi benar-benar ingin mempertobatkan orang yang diajak debat, tetapi sayang, tujuan debat itu berakhir dengan kemenangan dirinya dan kekalahan pihak lawan, bukan pertobatan pihak lawan. Kemenangan itu seperti kemenangan perang/pertandingan (saya melihat sendiri foto kemenangan mereka di internet, tidak ada bedanya dengan orang yang menang perang atau memenangkan suatu pertandingan). Jika demikian, apa tujuan debat jika hasil akhirnya untuk kemenangan dan kepuasan diri dan bukan untuk kemuliaan Tuhan? Bukankah itu kesia-siaan?

(2) Berlaku bagi luar (eksternal)
Setelah kita memberlakukan kepekaan mengetahui dengan jelas dan membedakan yang baik daripada yang jahat, maka barulah kita peka mengetahui dengan jelas dan membedakan sesuatu dari luar (entah itu doktrin, praktik hidup, orang, dll) apakah baik atau jahat. Dewasa ini, praktik membedakan dan menegur ajaran yang salah dinyatakan haram oleh sebagian (bahkan banyak) orang “Kristen” dan tidak sedikit hamba Tuhan. Dengan dalih toleransi dan relativisme ala postmodern, mereka dengan berani mengutip ajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 7:1 lalu mengajar bahwa Kristus sendiri mengajar untuk tidak menghakimi. Benarkah perkataan Tuhan Yesus itu berarti kita tidak boleh menghakimi? Sangat tidak masuk akal jika yang dimaksud Kristus di Matius 7:1 itu adalah kita tidak boleh menghakimi, padahal di ayat 15-23, para murid-Nya (termasuk anak-anak Tuhan di zaman kita) diperintahkan oleh Kristus sendiri untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada mereka (kita) dengan menyamar sebagai domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala buas. Tidak berhenti di situ, Ia mengajarkan kepada kita bagaimana kita membedakan dengan jelas mana yang benar dan salah dilihat dari buah yang dihasilkan yang berpangkal pada pohonnya. Dari pemaparan di atas, bagi para penganut paham toleransi-isme dan relativisme, sungguh suatu kontradiksi yang tidak bisa mereka hindarkan ketika mereka dengan sok berani menafsirkan Matius 7:1 bahwa Kristus melarang kita menghakimi. Lalu, apa maksud Tuhan Yesus di dalam Matius 7:1? Sesuai dengan salah satu kaidah penafsiran Alkitab yang bertanggungjawab dan beres, sebuah ayat tidak bisa ditafsirkan begitu saja tanpa memperhatikan konteks yang ada dengan memperhatikan ayat sesudahnya. Dari Matius 7:1-5, ada dua hal yang menjadi alasan peringatan Tuhan Yesus untuk tidak menghakimi, yaitu: pertama, ukuran (ay. 2); dan kedua, self-judgment atau penghakiman terhadap diri sendiri sebelum kita berani menghakimi orang lain (ay. 3-5). Ketika kita sudah menghakimi diri sendiri, kita baru dapat menghakimi orang lain dengan ukuran yang beres (ay. 5). Dengan dasar yang sama, Paulus dengan tegas dan keras mengingatkan jemaat Galatia untuk TIDAK berzinah dengan “injil-injil” lain (ALT, ESV, ISV, dan RV menerjemahkannya, a different gospel/injil yang berbeda) di luar Injil Kristus yang Paulus beritakan, meskipun “injil-injil” lain itu diberitakan oleh malaikat sekalipun (Gal. 1:6-10). Rasul Yohanes pun mengingatkan kita untuk TIDAK percaya kepada segala roh dan menguji roh-roh itu apakah mereka berasal dari Allah atau tidak. Bagaimana caranya? Setiap roh yang mengaku Yesus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, maka itu adalah Roh Kudus, jika tidak, maka itu bukan datang dari Allah (1Yoh. 4:1-4). Dari realitas yang diajarkan Alkitab ini, maka kita bisa menguji suatu ajaran benar atau salah juga dari segi: motivasi, cara, dan tujuan. Dasar ujinya adalah apakah suatu ajaran itu motivasinya, caranya, dan tujuannya dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36)? Jika salah satunya tidak ada Allah di dalamnya, maka ajaran itu jelas salah.
Ajaran salah sering kali dilatarbelakangi oleh motivasi yang tidak beres, yaitu mencari kesenangan diri. “Theologi” kemakmuran muncul di kala manusia sedang mengalami penderitaan, maka para “theolog” kemakmuran mencetuskan ide bahwa yang percaya “Kristus” pasti kaya, sukses, sehat, dll. Dari segi motivasi, jelas mereka tidak beres, karena mereka membangun theologi bukan dari pengertian Alkitab yang menyeluruh, tetapi dari asumsi manusia berdosa yang mencari dukungan ayat-ayat Alkitab yang sama sekali di luar konteks. “Theologi” religionum pun tidak ada bedanya dengan “theologi” kemakmuran lahir di zaman postmodern yang merelatifkan kemutlakan. Lucunya, jika “theologi” religionum itu “Alkitabiah”, mengapa “theologi” ini TIDAK muncul di zaman para bapa gereja dan Reformasi, tetapi HANYA muncul di zaman postmodern ini? Bukankah motivasi para pencetusnya sudah tidak beres, yaitu mengikuti arus zaman dan bukan mengikuti apa yang Alkitab ajarkan?! Tahukah Anda bahwa ikan apa yang terus ikut arus? Pdt. Dr. Stephen Tong mengutip perkataan hamba Tuhan lain mengatakan bahwa HANYA ikan MATI yang terus ikut arus! Itulah kondisi gereja sekarang, terus mengikuti arus zaman, tanpa mau mengikuti arus pimpinan Roh Kudus sesuai Alkitab. Semua ini membuktikan bahwa kedua macam “theologi” ini jelas TIDAK datang dari Allah, karena motivasinya pun BUKAN dari Allah.
Dari segi cara, ajaran salah jelas menggunakan cara-cara yang salah dan tidak bertanggungjawab demi menambah jumlah pengikut. Mengapa ajaran kemakmuran bisa laris di dalam Kekristenan postmodern ini? Karena para pengajar yang memopulerkan ajaran ini memakai beribu cara untuk menarik jemaat Kristen dari gereja lain untuk menerima ajaran ini. Berbagai tipuan mereka gunakan, misalnya, dengan mengiming-imingi jemaat gereja lain yang datang ke gerejanya akan diberikan souvenir cantik atau bahkan mendapat doorprize, penyelesaian masalah, diberkati, bisnis lancar, dll. Dengan kata lain, gereja model ini TIDAK ada bedanya dengan dukun (apalagi gereja yang “pendeta”nya suka mempromosikan minyak urapan), bedanya hanya: gereja menggunakan “dalam nama ‘Yesus’”, sedangkan dukun tidak. Bagaimana dengan “theologi” religionum? Mudah, caranya adalah khotbahkan selalu hal-hal yang membuat hati jemaat merasa miris, misalnya, “Saudara-saudara, masa kita tega melihat rekan atau saudara Anda yang tidak Kristen tidak masuk Sorga? Tentu tidak, bukan? Maka, agama lain pun bisa selamat, tidak selalu Kristen.” Atau khotbahkan selalu hal-hal sosial yang mengetuk pintu hati jemaat untuk memberikan bantuan sosial dan melupakan pentingnya penginjilan verbal! Di hari Natal, jangan pernah khotbahkan kelahiran Kristus dari Alkitab, tetapi khotbahkanlah kelahiran Kristus yang membawa damai, lalu kaitkan dengan perdamaian dunia, PBB, dll. Pelan namun pasti, jemaat digiring untuk menjauh dari berita kebenaran Alkitab, lalu mengikuti ajaran “theologi” religiounum dan social “gospel”! Mengerikan, tetapi banyak yang tertipu!
Kalau motivasi dan caranya sudah tidak beres, tentu tujuan akhirnya lebih tidak beres. Kalau ajaran kemakmuran motivasinya untuk kesenangan diri, lalu mencari cara untuk mewujudkan motivasi itu, maka tujuan akhirnya tentu agar diri dan ajarannya makin populer. Tidak usah heran, para penganut ajaran ini yang notabene “hamba Tuhan” sukses besar menipu orang Kristen, sehingga orang Kristen yang miskin tetap miskin, sedangkan para “hamba Tuhan” yang dulunya miskin tiba-tiba kaya mendadak dan memiliki rumah mewah dan banyak mobil. Dari mana mereka bisa kaya mendadak? Dari persembahan yang mereka kumpulkan yang diimingi dengan janji pelipatgandaan bagi yang memberikannya. Bagaimana pula dengan tujuan akhir “theologi” religionum? Jelas lebih tidak beres, para “theolog” religionum akan dengan bangga jika mampu menggiring jemaatnya untuk tidak lagi percaya finalitas Kristus dan lebih “dewasa” dalam iman yaitu berpaham inklusif (atau relatif atau apa pun nama yang mereka ciptakan sendiri, ujung-ujungnya hanya satu: menolak finalitas Kristus!) dengan menerima “kebenaran” dan keselamatan semua agama. Tujuannya jelas yaitu antroposentris, memuaskan semua orang, tetapi sayangnya memuakkan bagi Tuhan Allah! Kristus diinjak-injak dan manusia dipuja-puji! Anehnya, TIDAK ada satupun nabi, rasul, bapa gereja, theolog di zaman dahulu yang berpaham “theologi” religionum, entah dari mana ajaran ini bisa muncul? Hehehe...

2. Kedewasaan Eksternal (External Maturity)
Setelah kita mempelajari kedewasaan internal, maka kita akan mempelajari kedewasaan eksternal. Kedewasaan eksternal adalah kedewasaan yang lahir dari kematangan rohani (atau kedewasaan internal). Dengan kata lain, kedewasaan eksternal adalah buah nyata dari kedewasaan internal. Ketika kedewasaan internal tidak beres, maka kedewasaan eksternal tidak beres. Apakah wujud kedewasaan eksternal ini?
a) Mandiri
Ketika di dalam kedewasaan internal, kita merindukan mengonsumsi makanan keras dan peka membedakan yang baik daripada yang jahat, maka wujud kedewasaan eksternal kita adalah sikap mandiri. Mandiri bukan singkatan dari mandi sendiri (hehehe), tetapi mandiri adalah sikap berdikari sendiri, berani melakukan segala sesuatunya secara sendiri. Mandiri tidak berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain sama sekali, tetapi mandiri adalah sikap seorang yang dewasa dalam mengerjakan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain, entah itu teman, orangtua, dll (meskipun bantuan mereka TIDAK boleh kita abaikan sama sekali). Apa saja wujud dari kemandirian itu?
(1) Menguasai banyak hal
Kemandirian ditandai dengan keinginan seseorang menguasai banyak hal. Saya mengatakan “banyak hal” bukan “semua hal”, karena manusia sejenius apa pun tak akan pernah mungkin menguasai semua hal, yang ada hanyalah manusia bisa menguasai banyak hal. Dengan menguasai banyak hal, orang Kristen tersebut belajar banyak hal dan tentu memiliki mandat bagaimana menebus hal-hal yang dipelajarinya itu untuk kemuliaan Tuhan. Hal yang saya maksud di sini bisa mencakup ilmu, etika, kebudayaan, dll di luar hal-hal yang berhubungan dengan theologi. Terus terang, saya LEMAH dalam poin ini dan saya terus belajar dari hamba-hamba Tuhan, baik dari Pdt. Dr. Stephen Tong (hamba Tuhan yang bagi saya menguasai banyak bidang, a.l.: theologi, filsafat, seni, musik, arsitektur, biologi, pendidikan, politik, dan ekonomi) dan Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. (gembala sidang GRII Andhika, Surabaya yang mengkhususkan dirinya di dalam bidang apologetika dan mandat budaya yang menyoroti masalah-masalah: pendidikan, ekonomi, politik, dan isu-isu sosial lainnya). Selain itu, saya juga tetap belajar dari hamba-hamba Tuhan lain, seperti Pdt. Billy Kristanto, M.C.S., Ev. Ivan Kristiono, M.Div., Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.), dll. Mereka semua memperkaya pengertian saya tentang integrasi iman Kristen terhadap semua bidang kehidupan.

(2) Bijaksana
Setelah menguasai banyak hal, kita tidak boleh menjadi sombong, melainkan apa yang telah kita pelajari dan kuasai itu menuntut kita untuk berbijaksana. Kita bukan hanya pintar mengerti banyak hal, tetapi kita dituntut untuk bijaksana. Secara implisit, Pdt. Sutjipto Subeno mendefinisikan bijaksana sebagai suatu tindakan yang diambil dengan tepat dengan pertimbangan yang matang di dalam kondisi yang tepat. Artinya, selain pintar, bijaksana juga membutuhkan hikmat tertinggi yaitu dari Tuhan. Bijaksana dalam hal apa saja?

Pertama, bijaksana dalam mengambil keputusan. Setelah mempelajari dan menguasai banyak hal, kita dituntut untuk bijaksana dalam mengambil keputusan. Misalnya, di dalam memilih pekerjaan, setelah kita mempelajari dan menguasai banyak hal berkenaan dengan profesi, maka kita dituntut untuk bijaksana dalam membuat dan mengambil keputusan yang benar. Keputusan ini harus didasarkan pada pertimbangan yang matang dan tentunya sebagai orang Kristen, harus dari hikmat dan pimpinan Roh Kudus. Pertimbangan yang matang di sini adalah menyangkut banyak aspek yang harus diperhatikan, misalnya: aspek iman (apakah pekerjaan ini tidak melawan kehendak Allah), aspek etika (apakah pekerjaan ini berdampak positif bagi masyarakat dan tidak merusak), dan aspek religius dan mandat budaya (sampai sejauh mana pekerjaan ini menjadi berkat bagi kita, yaitu dalam membentuk iman dan karakter kita serta mendewasakannya dan sebaliknya, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain).

Kedua, bijaksana dalam mengelola segala sesuatu: keuangan, waktu, dll. Setelah kita menetapkan keputusan untuk memilih profesi tertentu atau hal lain, kita harus bijaksana mengelola segala sesuatu yang diperlukan bagi keputusan itu. Misalnya, kita harus bijaksana mengelola waktu yang kita pakai untuk disesuaikan dengan profesi kita. Begitu juga, kita harus bijaksana mengelola keuangan yang kita pakai setelah kita menekuni profesi tersebut, sehingga hidup kita tidak boros. Orang yang sudah bisa mengelola keuangan, waktu, dll baru bisa dikatakan dewasa. Ada banyak orang (“Kristen”) yang mengaku sudah dewasa, tetapi sayang tidak bisa mengatur waktunya. Untuk hal-hal yang penting, misalnya sebagai orang Kristen harus ke gereja, mereka dengan seenaknya sendiri telat ke gereja dengan segudang argumentasi, misalnya: telat bangun, hujan, dll, tetapi herannya kalau mereka pergi bekerja/ke kantor, mereka tidak pernah telat. Itu membuktikan bahwa mereka TIDAK bisa mengatur waktu yang berkaitan dengan nilai hidup. Bagi mereka, kerja lebih penting daripada menghadap Tuhan. Itukah ciri orang Kristen? Perlu dipertanyakan...

(3) Bertanggungjawab
Setelah kita selesai dengan tugas kita yaitu bijaksana dalam mengambil keputusan dan mengelola segala sesuatu, selanjutnya kita dituntut untuk bertanggungjawab. Bertanggungjawab ini meliputi dua hal, yaitu: bertanggungjawab atas segala sesuatu dan bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah kita putuskan.

Pertama, bertanggungjawab atas segala sesuatu. Di titik pertama, ciri kedewasaan Kristiani secara eksternal adalah kita bertanggungjawab atas segala sesuatu. Artinya, ketika kita mengatakan atau melakukan sesuatu, kita harus berani mempertanggungjawabkannya. Jangan pernah melarikan diri atau memelintir apa yang telah kita katakan atau lakukan kalau itu salah. Akuilah jika memang salah. Tetapi dunia postmodern hari-hari ini mengajarkan hal yang sebaliknya. Dunia ribut untuk mengajarkan apa saja tanpa memikirkan motivasi, cara, isi, dan tujuan apakah benar dari perspektif kedaulatan Allah atau tidak. Yang sibuk mereka pikirkan adalah keuntungan dan kesenangan pribadi. Bukan hanya orang dunia, orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” melakukan hal ini, bahkan bisa lebih mengerikan, karena semuanya diatasnamakan “Tuhan.” Akibatnya, dunia kita banyak memproduksi generasi yang tidak bertanggungjawab. Sebagai contoh praktis dan alasan mengapa mereka tidak mau bertanggungjawab ini, kita bisa mempelajarinya di poin IV yang dikaitkan dengan peranan pendidikan Kristen.

Kedua, bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah kita putuskan. Kalau kita mengambil keputusan yang benar, puji Tuhan, bagaimana jika kita mengambil keputusan yang salah ditambah tidak bisa mengelola keuangan, waktu, dll yang ada pada kita? Kita tetap harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Ada banyak orang (“Kristen”) yang setelah mengambil keputusan dan mengelola segala sesuatu, lalu cuek dengan tindakannya, akibatnya, semua yang telah mereka kerjakan menjadi kacau, ujung-ujungnya mereka akhirnya menyalahkan Tuhan atau orang lain. Itu bukti ketidakdewasaan kita! Kita sebagai anak-anak Tuhan jangan meniru sikap demikian!
Setelah kita benar mengambil keputusan tentang profesi tertentu, selanjutnya kita dituntut lebih lanjut untuk bertanggungjawab atas pemikiran, perkataan, dan perbuatan kita di dalam menekuni profesi tersebut. Ingatlah, tanggung jawab itu dilakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (bdk. Kol. 3:23). Sebelum mengatakan segala sesuatu, belajarlah berpikir terlebih dahulu akan apa yang hendak kita ucapkan, karena perkataan yang tanpa dipikir adalah suatu kesia-siaan dan itu akan dihakimi Tuhan kelak (Mat. 12:36-37). Begitu juga dengan apa yang kita pikir dan perbuat, semuanya itu harus kita pertanggungjawabkan. Belajarlah minta pimpinan Tuhan akan apa yang hendak kita pikirkan, katakan, dan perbuat, supaya nama Tuhan jangan dipermalukan ketika apa yang kita pikirkan, katakan, dan perbuat itu salah. Jangan sekali-kali lari dari tanggung jawab. Itu bukan tindakan seorang yang dewasa!

(4) Tahan menderita
Terakhir, setelah kita mengambil keputusan dalam memilih satu profesi dan ternyata pilihan kita itu salah, maka kita harus rela menerima risiko. Risiko itulah yang disebut penderitaan. Seorang yang dewasa ditandai dengan orang itu tahan menderita baik sebagai akibat kesalahan pilihan yang dia buat. Di sisi lain, mungkin sekali, keputusan yang kita buat itu benar, tetapi kita masih saja ditimpa penderitaan. Penderitaan itu memang diizinkan Tuhan. Kita sebagai anak-Nya harus tahan menderita di dalam segala situasi, baik karena kesalahan kita sendiri maupun ujian dari Tuhan. Kesemuanya itu turut mendewasakan iman dan karakter kita. Ketika kita menderita, belajarlah berfokus bukan kepada penderitaan yang kita alami, tetapi kepada Allah. Ketika kita terus berfokus kepada Allah di dalam penderitaan, kita akan mendapatkan kekuatan dari-Nya untuk melewati berbagai macam penderitaan. Belajarlah dari Paulus yang mengajarkan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp. 4:13) maupun, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2Tim. 1:12) Di dalam penderitaan, percayalah, sebagai anak-anak-Nya, Tuhan pasti memberikan kekuatan iman, sehingga kita nantinya pasti meraih kemenangan demi kemenangan, karena Kristus yang telah mengalahkan iblis dan kemenangan-Nya itu memberikan kuasa kemenangan-Nya itu kepada anak-anak-Nya. Percayakah Anda akan hal ini? Biarlah kita mengalami sendiri kuasa kemenangan Kristus di dalam penderitaan.


b) Kemampuan Bersosialisasi
Kedewasaan eksternal bukan hanya ditandai dengan kemandirian. Budaya Barat yang menekankan kemandirian itu baik, tetapi sangat berbahaya, karena akan mengakibatkan individualisme dan cuek dengan kondisi sekitar. Saya pribadi menemukan realitas ada seorang jemaat awam yang sangat suka membaca buku-buku theologi, tetapi sayang jemaat ini kurang bersosialisasi. Kemandirian yang sehat harus diimbangi dengan kemampuan bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi itu ditandai dengan kemampuan seseorang membina persahabatan dengan sebanyak mungkin orang dan bagaimana berinteraksi dengan mereka. Di situlah kedewasaan seseorang mulai muncul. Apakah kemampuan bersosialisasi ini berkaitan dengan temperamen seseorang? Apakah seorang melankolis tidak bisa bersosialisasi? Tidak juga. Fakta membuktikan ada seorang teman saya satu gereja yang mengaku melankolis, tetapi dia juga memiliki banyak teman. Jadi, kemampuan bersosialisasi tidak ada hubungannya dengan temperamen seseorang. Belajarlah untuk terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain. Mengapa? Dengan banyak bersosialisasi, kita semakin terbuka akan lingkungan sekitar. Kita akan semakin mendapat banyak ilmu, pengalaman hidup, dll yang bisa kita pelajari dan saring sendiri menurut firman Tuhan. Saya pribadi mengalami hal ini, di mana banyak berteman, kita mendapat banyak berkat yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Selain itu, kita juga mendapatkan banyak pengalaman hidup dari mereka. Tuhan bisa mengajar kita melalui kehadiran rekan-rekan kita.

Kemudian, dengan banyak bersosialisasi, kita juga dapat saling berinteraksi. Saling berinteraksi itu maksudnya saling menguatkan, mengingatkan/menegur, dan mengajar, sehingga masing-masing rekan/teman mendapat berkat dan bertumbuh dewasa baik secara iman dan karakter. Saya mengalami hal ini. Dengan memiliki banyak teman seiman, kami saling menguatkan, menegur, dan mengajar, sehingga masing-masing dari kami bertumbuh. Ketika saya salah, teman saya bisa mengingatkan dan menegur saya. Ketika saya sedang sedih dan ada masalah, teman saya bisa menguatkan. Sebaliknya, ketika teman saya sedang sedih, saya yang menghibur mereka. Saya memiliki suatu cerita, teman saya ini sedih karena beberapa barang berharganya hilang dan dicuri, di saat itulah, ketika ia curhat ke saya melalui chat di satu kantor, saya menguatkannya bahwa jangan sampai hal-hal tersebut mengurangi kasih kita kepada-Nya, karena Ia mengizinkan hal-hal tersebut terjadi demi pertumbuhan iman kita yang berpusat kepada Kristus. Ini semua saya alami ketika saya masih melayani Tuhan di Momentum Christian Literature. Saya mengalami sendiri apa bedanya melayani Tuhan bersama dengan rekan-rekan seiman dengan tidak bersama dengan rekan-rekan tersebut. Kehadiran teman-teman tersebut saling mengisi, menguatkan, menegur, dll, sehingga iman dan karakter makin diasah dan didewasakan. G. I. Jeffrey Siauw, M.Div. di dalam khotbahnya tentang komunitas di dalam Seminar Redemptive Spirituality Series mengajarkan bahwa pentingnya komunitas itu membukakan kepada kita realitas kita yang negatif dan teman kita dapat memberi terang kepada diri kita. Tanpa komunitas, kita tidak pernah merasa diri kita memiliki kelemahan/hal negatif. Tuhan memakai komunitas yang bertanggungjawab sebagai sarana mempertumbuhkan iman dan karakter kita. Sudahkah dan bersediakah kita menjalin sosialisasi dengan orang lain?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar